Masalah akibat jumlah angkot di Depok yang makin banyak: kompetisi antar supir angkot yang menyebalkan. Banyaknya angkot bernomor sama menyebabkan terjadinya kompetisi antar angkot. Kalau bahasa biologinya kompetisi intrasepisifik. Kompetisi intraspesifik adalah kompetisi antar mahluk hidup di dalam sebuah populasi untuk mendapatkan makanan. Coba ganti mahluk hidup jadi supir angkot, populasi jadi kumpulan angkot bernomor sama dan makanan jadi penumpang. Wow.

Tapi, kompetisi ini berjalan dengan tidak sehat. Bukan hanya merugikan peserta kompetisi lain yaitu para supir angkot, tapi juga penumpang, pengguna jalan raya lain dan petugas. Contohnya, ketika para supir angkot melihat seorang mangsa (penumpang), sedang menunggu, mereka akan berusaha berlomba-lomba sampai ke depan penumpang itu untuk menawarkan angkot mereka. Nah, cara yang mereka lakukan amat menyebalkan. Angkot yang tadinya berjalan lurus dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba mengganti alur jalan mereka agar sampai ke pinggir dengan cepat. Tindakan ini amat membahayakan. Para penumpang-yang-sudah-duduk-nyaman-di-angkot berpotensi tinggi terkena serangan jantung mendadak dan jatuh terjembab kalau kurang cepat berpegangan pada kursi. Sedangkan pengguna-jalan-raya-lain memiliki resiko yang lebih besar. Karena tindakan supir angkot itu, mereka dapat terkena serangan jantung mendadak dan menabrak. Padahal mangsa, maksudnya penumpang, itu  sedang menunggu angkot bernomor lain.

Lain lagi ketika para kompetitor angkot itu bersaing memperebutkan penumpang dengan cara menunggu di tempat-tempat strategis. Bahasa kerennya: ngetem. Aktivitas yang satu ini, juga amat mengganggu. Penumpang-yang-telah-duduk-nyaman-di-dalam-angkot harus menunggu lama untuk memuaskan hasrat supir angkot untuk terus menambah jumlah penumpang angkotnya. Padahal jelas, di tempat itu tak ada orang yang kelihatan berminat naik angkot. Dilihat dari sisi  penumpang-yang-diharapkan-untuk-menaiki-angkot, para supir angkot itu terlihat menjijikan dan menakutkan. Mereka meneriakkan nomor dan jurusan masing-masing angkot dengan keras. Kadang, cara mereka membujuk penumpang setengah memaksa. Belum lagi dari sisi pengguna jalan raya lainnya. Angkot-angkot itu menyebabkan kemacetan mendadak!

Namun, meski pun kompetisi ini menimbulkan banyak masalah, kompetisi ini tidak pernah berakhir. Dan tak akan berakhir.

Satu-satunya cara adalah dengan menekan supir angkot untuk tidak terlalu ekstrim untuk melakukan hal –hal semacam itu. Sebenarnya dari pemerintah sendiri sudah mencoba untuk menindaklanjuti kompetisi tidak sehat ini dengan cara memperbanyak polisi lalu lintas untuk mengawasi angkot-angkot itu. Tapi cara yang paling efektif adalah dari para supir angkot itu sendiri. Kalau mereka mau mengalah satu sama lain, masalah ini akan selesai. Masih sangat sedikit supir angkot yang sudah mampu dan mau berpikir sejauh itu.

Sebenarnya cerita tragis di balik kompetisi kejam dan penuh marabahaya itu adalah kenyataan bahwa supir angkot melakukannya karena mereka membutuhkan hal paling mendasar dalam hidup di perkotaan: uang.

Mereka sudah tak dapat memikirkan cara lain selain sebagai supir angkot yang begitu gencar mencari mangsanya alias penumpang. Ini juga disebabkan karena sedikitnya lapangan kerja di Depok yang makin padat. Mau tidak mau mereka harus masuk ke dalam kompetisi berbahaya itu. Kita juga sebagai pihak yang dirugikan tak bisa begitu saja menimpakan semua kesalahan pada supir angkot. Karena itu satu-satunya kesempatan lain untuk mengurangi hal itu adalah dibukanya lapangan kerja baru agar mereka memiliki alternatif lain dalam mencari nafkah. Dengan begitu mungkin peserta kompetisi ini akan semakin berkurang dan kompetisi ini bisa berjalan sehat seperti yang seharusnya.

Posted by: nadhil | February 16, 2009

peristiwa memalukan dan resolusiku

hahaha..

Lama bgt nih nggak nge-post jd bngung mau nge post apa. Hmm. Hmm.

::

Hari rabu (atau selasa) kemaren, aku ikut lomba puisi.

oke, kalian boleh ketawa ngakak atau jungkir balik, atau bilang, “pasti kalah, deh”. Oke, aku terima kok. Yap, aku emang udah kalah (mungkin). Secara yang ikut mantep2! oke, cerita dari awal ya..

Awalnya aku sama sekali nggak berminat buat ikutan lomba puisi. Secara biasanya aku nulis puisi dan bukannya bacain. Dan aku suka seenaknya gitu kalau baca puisi, eh bikinnya juga sih. Dengan intonasi yang datar. Tapi, aku berambisi (yeah, aku ambisius) buat menangin ‘best class’ di lomba2 rangkaian Aksi ini. Jadi yang dapet ‘best class’ itu yang kelasnya banyak ikut lomba, jadi kayak ngumpulin point gitu. Kalau menang otomatis point nya makin gede.

Nah, orang yang harusnya ikutan lomba itu, juga ikutan lomba debat sehingga aku berinisiatif menggantikannya dimana itu ide yang BODOH awalnya. Tapi aku inget waktu lomba memalukan pidato di smanti dan aku yang sangat sulit berkomunikasi dengan orang (walau pun udah ngomong selam 10 menit, nggak ada yang ngerti aku ngomong apa, termasuk aku sendiri), jadi ikutr lomba2 ngomong di depan banyak orang masuk dalam resolusi tahun ini.

hei, emang baca puisi bisa menambah kemampuan komunikasi seseorang?

(aku baru mikir sekarang)

ya, paling nggak bisa menambah pede ku. Hahaha..

back to the story:

Jadi malem2 aku bikin puisi, trus latian tanpa suara (hayo, gimana tuh?), pas di skolah, ternyata puisi yang udah dibuat, nggak nyambuung! untung ada kenneth, sang pujangga yang ikut lomba puisi bertemakan unity in diversity yang juga menjadi tema lomba baca puisi. Berterimakasihlah kenneth, udh disebut pujangga. Oke, dengan kursus kilat dari pipit sang.. apa ya namanya. Pokoknya nih ya, kalo dia jadi calon presiden trus orang2 bego pasti bakal milih dia apa pun yang dia omongin. Ya udah deh, dengan berbagai tips singkat dari pipit, dengan berusaha pede tapi gemeteran, aku masuk ruangan lomba.

Iya lho..

Peserta pertama selvi, anak x1 juga yang aku paksa2 buat ikutan lomba itu. Dia shock, karena puisinya juga baru dibuat sejam yang lalu di kelas. Dan, dia nggak buruk. Gimana aku??

Peserta kedua, anak kelas 11, tapi dia nggak ada. Dan akhirnya,

“Nadhila Iffa Zakira dari x1”

shit! mati aja udah.

oke, aku inget2 smua tips pipit. Pertama, senyum. Tarik nafas dan..

::

Dan baru hari itulah aku mengerti. Membaca puisi dan menulis puisi adalah 2 hal yang amat BERBEDA. Seorang pembaca puisi, tak hanya berbicara lewat kata-kata. Tapi suara, ekspresi, intonasi, dan emosi yang ditimbulkannya. Bahkan kata2 menjadi tak penting lagi. Berbeda dengan seorang penulis puisi, ia hanya dapat menyampaikan lewat kata2 dan sisanya.. terserah yang membaca. Meski maknanya menjadi lebih indah karena kebebasan pembaca untuk menafsirkan puisi ciptaannya. Dan itulah, aku mengerti.

Sama ketika aku tahu bahwa puisi berima itu lebih dianggap indah oleh orang-orang dan ternyata banyak juga puisi indah tanpa memedulikan rima (puisi ciptaanku cenderung seenaknya tanpa rima karena dibuat mood-moodan).

Dan, yaah setidaknya aku udh menjalankan 1 resolusi dan akan terus menjalankan resolusi ini. Hahaha mempermalukan diri di depan umum begitulah bahas kasarnya.

wish me luck!

🙂

Posted by: nadhil | January 19, 2009

harus.. kah hujan?

Aku nggak suka hujan.

Meski pun banyak orang yang bilang hujan itu indah, punya romantisme sendiri, dll. Tetep aja aku nggak bisa suka hujan. Nggak tahu kenapa. Memang, aku suka larut dalam keindahan hujan yang diceritakan banyak orang keren kayak sitta karina dan raditya dika. Tetep aja dalam dunia nyata, aku nggak bisa suka sama hujan.

Tiap mau merasakan indahnya hujan, aku selalu terkena cipratan air hujan dan aku nggak suka akan hal itu.

Tiap mau melihat hujan dari dekat, aku merasakan dingin merayapi tubuhku dan aku tidak suka itu.

Satu-satunya yang aku suka dari hujan adalah ketika hujan berhenti turun dan matahari kembali muncul.

Aku tahu hujan itu lambang bersyukur. Bukannya aku tidak bersyukur atas nikmat ini, tapi.. tetep aja aku nggak suka.

Hujan lambang kesedihan.

Hujan lambang ketakutan.

Hujan lambang tangisan.

Hujan lambang penyakit.

well, tapi aku setuju kalau hujan punya romantisme sendiri.

Dan aku, tetap nggak suka hujan

😦

Aku benci kata-kata ‘harus’.

Kesannya tuh maksa dan si penyandang kata-kata harus jadi punya beban sendiri karena kata ‘harus’ yang berarti harus plek kayak gitu.

Contoh : Kamu harus ranking 1. Kamu harus bisa. Kamu harus bisa mukul bola itu.

see?

Nyebelin kan kalau pake kata2 ‘harus’?

coba deh pake kata ‘akan’ atau ‘pasti’.

contoh : Kamu akan ranking 1. Kamu pasti bisa. Kamu akan memukul bola itu.

see?

Lebih enak didenger. Lebih meyakinkan. Dan lebih ngebuat orang termotivasi. So, don’t use ‘harus’ to me, i will feel so down.

peace

Posted by: nadhil | January 13, 2009

What’s wrong with my face?

Rabu malam 20.00

Guess where I came from?

Carrefour!

Whoa whoa, ngapain juga aku ke Carrefour? Jadi, aku kesana mau beli cemilan teman belajar. Dan.. aku menyadari sesuatu.

>_<

Aku diberi sebuah tugas maha penting, dimana nasib nilai ulangan sosiologi sekelas berada di tanganku. (*lebai mode: ON) Singkatnya, aku disuruh foto kopi bahan uas sosiologi. Tapi karena males dan karena nggak ada tukang foto kopi yang bener di sekitar rumahku (yang ada rada-rada aneh), aku pun pergi menjelajah..

‘mendaki gunung, lewati lembah.. sungai mengalir indah ke samudera, membawa teman bertualang..’

Itu mah namanya NYULIK! Bawa2 temen berpetualang mau ngapain coba?

Back to the topic,

Jadilah aku pergi ke tukang foto kopi yang mengharuskan aku naik angkot dan jalan kaki serta naik ojeg.. (well, nggak sejauh itu sih)

Mood ku hari ini sedang jelek. Nggak tau kenapa. Orang rumah juga pada ngehindar, soalnya mereka tau kalo gangguin aku pada fase ini, aku pasti ngamuk. Kayak adekku, aku kan lagi ngurung diri di kamar karena mood pengennya nyudut di pojokan kamar. Terus acara tivi favorit kita, ‘Kepompong’, udah mulai, trus dia teriak dari ruang tivi yang ada di depan kamarku.

“Mbak, kepompong udah mulaii!”

“Iya, iya.” (pelan dan dengan enggan berencana mau berdiri)

“Mbak, de Rainbow udah MULAI tuh..”

“Iyaa.” (sedikit lebih keras)

(sambil ngetok pintu kamar+teriak) “MBAK, DE RAINBOW UDAH MULAII!!”

“IYA, IYA, MBAK DIELA DENGER TAU! Nggak usah tereak-tereak!!”

(diem)

Ya udah, karena takut di pelototin sama ketua kelas dan takut di cerewetin sama anak2, berangkatlah aku pada jam 19.00, dimana aku udah ngantuk. Ngantuk sodara-sodara! Adekku aja udah tidur.

Pas di tempat fotokopi, muncul hasrat untuk menguap. Menguaplah aku. Trus ditanyain ma abangnya, “jam segini udah ngantuk, neng?”

Lola ku (atau budeg?) muncul. Aku baru nyadar tu abang2 ngomong sama aku setengah menit kemudian.

“Oh. Iya..” (senyum meringis ngapain-sih-nanya-nanya)

“Kayaknya kecapean tuh..”

“Yaa gitu..” (ya iyalah, lebih tepatnya capek mikirin uas a.k.a. stress!)

Dari situ aku mulai berpikir, emang tampangku sekuyu itu apa? Oke, aku emang PENGEN BANGET tidur, tapi emang keliatan ya?

Dan sampailah aku ke Carrefour, di skip langsung ke mbak2 kasir. Nah, ini nih yang memperkuat keyakinanku kalo tampangku itu tampang orang capek, letih, lesu, stress dan BEGO!

Saya (n) : (naro keranjang belanjaan di tempat seharusnya belanjaan itu pas udah dibayar, sedangkan itu belum)

Mbak2 kasir (mk): Eh, bukan di situ mbak naronya..

N : Ng? Oh iya juga ya (menyadari kesalahan balik ke tempat seharusnya)

MK : Bentar ya, mbak. Ini ada yang mesen barang. (Dengan tatapan nggak-tau-apa-saya-lagi-ngurus-customer-lain?)

N : … (loading)

MK : Mbak..?

N : Ha? Oh iya, pindah ke tempat lain aja deh. (ngeloyor pergi sambil terhuyung-huyung)

Nah, meski pun proses loadingku nggak berlangsung lama (kan pake speedy!), tapi tetep bisa ngebuat Mbak2 kasir mengeluarkan ekspresi aneh ni-orang-dengerin-nggak-sih? atau kenapa-sih-ni-orang?-bikin serem-aja ke aku. Dan aku menyimpulkan dengan 2 bukti di atas kalau :

1. Tampangku tampang stress, capek, frustasi dan bego.

2. Hal tersebut otomatis membuat daya pikirku makin lambat.

3. Kalau kalian menemukan cewek berjilbab, pake kacamata, item manis, dan bertampang stress, kemungkinan besar itu aku.

Oh, aku inget ada bukti lain. Pas ketemu sama kakak kelas waktu istirahat,

“Kakak..!”

“Hai Nadhilaa! Nadhila kenapa? Abis ulangan, ya? Kok tampangnya stress gitu..?”

Jlebb!

“Gitu deh, kak.. Haha.. ”

“Sabar ya, Nadhila..”

Padahal aku nggak abis ulangan, dan kalo nggak salah lagi nggak ada guru waktu itu. Oh, my! Berarti tampangku itu emang tampang orang stress, tidaaaaaak!!!! (*stress mode: ON)

Posted by: nadhil | December 16, 2008

new recipe

pada suatu siang yang cerah..

Aku yang lagi nonton TV di ganggu oleh suara berisik adekku.

“Mbaak, masa coklatnya nggak enak! Hoek! Pait!” katanya sambil meleletkan lidahnya dan menjauhkan bungkus coklat dari wajahnya. Kutengok sebentar tampang anehnya dan ngomong,

“Ya iyalah, itu kan dark chocolate. Pasti pait lah. Makanya mbak Diela nggak mau ngambil.”

Dengan tampang cemberut dan memandangi coklat itu, dia nanya lagi,

“Terus gimana dong mbak?”

Aku yang mulai keganggu, ngomong dengan asal,

“Ya udah, kasih aja gula, kan jadi manis tuh.”

“Emang iya mbak?”

“Ya iyalah, gula kan manis.”

>_<

Beberapa menit kemudian,

“Hoek! Apaan sih, mbak. Make gula tuh malah jadi aneh!”

“Ha? Beneran pake gula? Hahaha”

aku memandangi coklat yang penuh gula dengan geli. Ternyata, dia bener2 nambahin gula ke coklatnya! “Jadi bohong? Aaah mbak diela jahat! Nggak mau tau,nih pokoknya jadi buat mbak diela, adek nggak mau tau!”

“Dih, nggak mau. Kasih susu sana, kan jadi enak tuh.”

“Nggak mau! Mbak Diela sesat!”

haha, ternyata kata2ku berpengaruh juga. Mana ada coklat kasih gula? I mean, coklat yg udah jadi dan tinggal makan. Hahaha..

Posted by: nadhil | December 8, 2008

ucapan

meskipun  idul adha udah lewat lama bgt,

selamat idul adha semuaa 🙂

Posted by: nadhil | December 3, 2008

malu diliatin

“pas mau nulis ini malah diliatin, ahhh  maluuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!”

-skenario Yanda

hahaha

ya sebenernya, keadaan nulisku sekarang emang lagi diliatin orang banyak. Ada Bernita ngomongin infaq jumat, eja yang pake kacamata, yanda lg bernggak penting ria, tru ada farid yang lagi ngobrol sama kevin

nah, cuma mau bilang dan mengkonfirmasi, kalo yang nulis postingan “if i were boy” itu yanda! bukan saya!!

siapa Yanda?

1 temen sekelas yang memiliki ketawa yg aneh

2 diam2 merebut kalo mau make laptop sekolah

3 coba bayangkan seorang COWOK yang nulis kayak gitu

silahkan mengakak ria

haha

harus tes olga

Posted by: nadhil | December 3, 2008

if i were a boy

selasa.2.12.08

kemaren sore-sore abis balik skul trus nonton mtv.. hohoo lagi ada mtv ampuh trus pas gua liat ada video klip nya beyonce,, judulnya tu if i were a boy…

gue sih baru liad kyaknya lagu baru,, hhhe.. coba dengerin,, trus nyari di kamus arti liriknya (hahaha.lebai),, trus coba inget” lagi…

liriknya kyk ” if i were a boy..”

“i wish i could understand…”

“how it hurts…”

yaaa,,, pokoknya gitu dah,,, ttg ceewek yang pengen jadi cowo,, sbenernya sih bkan karena dia pngen jadi cowo juga tapi dia pngen ngasih liat kalo cowo tuh bisanya nyakit doang ! hahaha,, personally,, gue stuju banget,,

ya,,, cowo emang bisanya nyakitin doang,,, hiks..hiks..hiks…

gue jadi ngebayangin klo gue jadi cowo.. ehm,,, gue pastinya ga akan nyakitin dia,, as beyonce said,, ” i know how it hurts..” soalnya cewek tuh tau banget gimana rasanya diskitin..

kenapa sih cowo ga bisa ngerti?

klo ada band bilang wanita harus dimengerti,, yah gue ngerti sih, tapi yang harus di peratiin tuh sikap cowo yang kadang cuek dan bodo amat,, yeah.. hidup cewek!

gue ngebayangin lagi klo gue jadi cowo yuh pastinya gue bisa ngomong apa aja, gue bisa lari-larian, bisa gila, bisa makan dengan kaki di angkat, dan ga perlu mikirin masalah orang- orang,, ya karena emang cowo tuh bukan person who i stick with,, trus i can shout,, ” i’m free, man! ”

hohooho… enaknya jadi cowo (loh kok jadi pengen jadi cowo?)

so,, yang pengen gue bilang sih supaya cowo tuh lebih ngerti cewek, bisa lebih sopan, ga bodo amat, lebih gentle-ga-sekong, peduli ama sekeliling,, hhe

eh tapi gua nulis gini bukan gue sebel sama cowok dan anti-cowok,, NO! NO! NO!

gua cuma pengen cowok tuh berubah. u ya udah sih,, jadi jangan protes sama gue juga.. klo gitu salahin siapa?

salahkan bunda mengandung

salahkan kevin yang irasional

salahkan oki yang menggugat cerai pasha ungu

salahkan bcl yang menikah dengan ashraf..

okay,, gua ngelantur,, hahaha..

jadi salahin aja beyonce yang bikin lagunya..yeah

hidup beyonce !

hidup cewek !

hidup indonesia !

hidup tukul !

-nadhila- peace !

Posted by: nadhil | November 28, 2008

there’s something wrong in my head

Salah satu sifat yang paling aku benci dari diriku adalah sifat pelupa. Well, aku punya masalah dalam mengingat. Nama orang, suatu kejadian atau peristiwa, bahkan barang-barang yang aku biasa bawa dan pastinya pelajaran. Hufft.. misalnya aja nih, aku pernah kenalan sama orang, tapi lupa nama sama wajahnya. Bahkan sampai sekarang aku masih nggak tahu kenalan sama siapa. Parah, ya? Terus waktu SMP, seperti biasa tuh aku pergi ke sekolah buat janjian atau melakukan hal lain (bukan ekskul, pastinya), ehm, ngaret. Dan, biasanya udah naik angkot atau seperempat perjalanan naik ojeg aku balik lagi ke rumah dengan terburu-buru.

Pasti ada yang ketinggalan.

Hp lah, jam tangan lah atau buku. Mbak di rumah awalnya kaget, karena tiba-tiba aku dateng lagi, tapi akhirnya malah udah biasa. Padahal aku udah mengatasi masalah ini lho pas SMA. Sekarang sebelum pergi aku pasti meriksa barang-barang wajib yang harus ada di kantong atau tasku.

Tapi itu terjadi lagi!!

Tambah lebih buruk, malah.

Dengan kepalaku yang hampir meledak gara-gara konslet ini, udah pasti isi otakku jadi kacau, sangat kacau.

Tadi aku ngilangin uang 20.000 hasil penjualan donat yang ditipin sama aku. Aku panik, kalau begitu aku harus menggantinya dengan uangku kan? Takutnya pas aku ngasih kembalian ke orang aku bukannya ngasih 1000 malah ngasih 20.000. Akhirnya aku nulis dengan font yang super gede,

 ‘ADA YANG LIAT UANG 20.000? ATAU UANGNYA TIBA-TIBA NAMBAH JADI 20.000? ITU PUNYA SAYA! -nadhila-

guess where, i found it?

Di bawah tas!

well, bukan aku sih yang nemu, tapi temen trus dia ngasih ke aku (thanks to evin). Bodohnya lagi, tulisan segede jaban itu belum di apus walau pun uangnya udah ketemu. Jadi, semua orang yang sebenernya bukan temen sekelas tau kalau aku kehilangan uang 20.000! Bahkan kakak kelas, pas ketemu,

“Nadhila, uang 20.000 nya ilang ya?”

see?

Terus kemarin aku pikir usb ku ketinggalan di sekolah nggak taunya ada di tempat pensil, terus aku pikir oxford ku pergi menjelajah entah di mana nggak taunya ada di tasku yang lain. Hufft.. Dan sekarang, aku kehilangan kunci lemariku, dimana aku jadi nggak bisa ngambil baju karena lemarinya kekunci!! (untung ada baju yang abis diseterika, jadi belum dimasukkin ke lemari)

Temenku gita sampe bilang, “nadhila ada yang ketinggalan mulu, yah?”

Huaaa!!

Tuh kan, ada yang salah kan dengan kepalaku. haduuh..!! any advice?

 

ada yang nemu 2 kunci lemari yang saling dihubungkan dengan buletan gantungan kunci? ITU PUNYA SAYA!!

Posted by: nadhil | November 21, 2008

First step

ehm, let me introduce my self.

Aku cuma cewek biasa yang ingin bahagia. Siapa sih yang nggak pengen hidup bahagia?

Sebelumnya, aku adalah moody person, yang bisa berubah kepribadian sewaktu-waktu. Bisa dibilang fleksibel nggak sih? Tapi beneran lho, kadang aku bisa berubah menjadi orang lain, maksudku aku yang sekarang belum tentu sama kayak yang kemaren. Serem ya?

Yaah, mau gimana pun diriku, aku tetaplah aku. Potongan-potongan aku itu yaa tetep aku. Soalnya kan yang ngelakuin aku juga.

Oke, itu nggak benar-benar penting. Mulai dari sekarang, mulai dari blog ini, aku akan membuat duniaku sendiri. Dimana aku adalah pusatnya (of course! this is my world!), dan aku akan menumpahkan semua (nggak semuanya) yang kurasain disini.

>>

Kadang, kita nggak tau perjalanan yang akan kita lalui saat ini akan mengubah hidup kita. Kita dapat mengatakannya jika perjalanan itu telah kita lalui. Seperti awal sebuah kisah mendebarkan : ‘perjalanan ini mengubah hidupku..’ . Kita akan selalu berdebar jika akan melakukan perjalanan atau melakukan sesuatu. Apakah ini akan mengubah hidupku? Apa yang akan berubah? Termasuk aku.

Siang itu, aku dan keluarga besarku (nggak semuanya, tapi), pergi ke pantai di Jepara. Rencananya kita mau ke Pulau Panjang. Tapi, kita mendapat banyak hambatan serta rintangan (halah). Dan aku juga berpikir, apakah perjalanan ini akan mengubah hidupku? Dan jawaban dari pertanyaanku saat itu adalah.. ya, perjalanan itu membuatku ingin menulis blog. So, here I am. Nyoba nulis postingan pertama, dengan mata setengah melek.

Sebenernya udah lama, sangaaat lama, aku pengen membuat sebuah blog. Tapi yang membuatku ragu adalah, di rumahku nggak ada sambungan internet. Ada sih, paling cuma Telkomnet instan, lemot pula.. I think that’s silly, if you have a blog then you not write it everyday. Tapi itu dulu. Banyak kok, para blogger yang nggak nulisin blognya tiap hari. Raditya Dika juga (lho?).

Dan akhirnya, aku mengumpulkan sebuah keberanian untuk membuat blog ini.

Dengan membuat blog ini, mungkin aku sudah merasa (ngerasa doang) dekat dengan impianku. Haha.. to be a writer.. cocok nggak?

Categories